Sirkumsisi pada Anak dan Kapan Sebaiknya Dilakukan?

Apa itu Sirkumsisi?

Sirkumsisi, atau yang lebih sering disebut dengan sunat atau khitan, merupakan prosedur bedah minor yang dilakukan untuk mengangkat kulup atau preputium, yaitu lapisan kulit yang menutupi kepala penis. Tindakan ini paling sering dilakukan oleh anak laki-laki, atas dasar agama maupun pertimbangan medis.

Walaupun sirkumsisi di Indonesia sebagian besar dilakukan karena alasan agama dan tradisi, namun dalam segi medis terdapat manfaat kesehatan yang didapatkan, terutama jika prosedur ini dilakukan dalam kondisi dan usia yang tepat.

 

Apa Saja Kondisi Medis yang Memerlukan sirkumsisi?

Kondisi yang menjadi indikasi utama:

  • Fimosis patologis:preputium melekat erat pada kepala penis dan tidak bisa ditarik ke belakang, terutama bila disertai kesulitan berkemih atau nyeri.
  • Parafimosis: preputiumyang sudah ditarik ke belakang tidak bisa kembali ke posisi semula, menyebabkan jeratan pada kepala penis. Kondisi ini termasuk kondisi yang memerlukan penanganan segera,
  • Balanitis berulang: adanya peradangan pada kepala penis yang terjadi berulang kali akibat kebersihan yang sulit dijaga.
  • Risiko infeksi saluran kemih tinggi:Anak laki-laki yang disirkumsisi memiliki risiko terjadinya ISK yang lebih rendah dibandingkan anak yang belum melakukan sirkumsisi. Kebersihan area genitalia juga lebih mudah untuk dijaga karena tidak ada area untuk akumulasinya smegma dan bakteri.

Kondisi Apa Saja yang Tidak Diperbolehkan Sirkumsisi?

Beberapa kondisi dimana sirkumsisi butuh ditunda atau tidak diperbolehkan sama sekali, meliputi:

• Hipospadia: lubang uretra tidak berada di ujung penis, melainkan di bagian bawah. Preputium diperlukan sebagai bahan rekonstruksi pada operasi hipospadia.

  • Epispadia: kondisi di mana uretra beradadi bagian atas penis. Preputium digunakan untuk rekonstruksi penis.
  • Gangguan pembekuan darah:seperti hemofilia; memerlukan persiapan khusus sebelum prosedur bisa dilakukan.
  • Infeksi aktif di area genital:prosedur ditunda hingga infeksi terobati.
  • Bayi prematuratau kondisi medis belum stabil: pada neonatus, sirkumsisi hanya dilakukan bila bayi lahir cukup bulan dan tidak ada penyakit penyerta.
  • Mikropenis: ukuran penis sangat kecil; memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum diputuskan apakah sirkumsisi bisa dilakukan.

 

Pemeriksaan fisik yang komprehensif dilakukan oleh dokter sebelum prosedur direncanakan, sehingga dokter dapat menentukan tata laksana dan tindakan yang tepat.

 

Usia yang Tepat untuk Sirkumsisi

 

Terdapat beberapa pertimbangan dan kelebihan apabila tindakan sirkumsisi dilakukan pada waktu yang tepat;

  1. 0-1 tahun (Newborn/bayi)
    1. Kelebihan: Waktu penyembuhan tercepat. Belum ada rasa takut atau cemas terhadap tindakan operasi yang dirasakan oleh anak.
    2. Pertimbangan: Perlu ketelitianyang ekstra selama prosedur karena ukuran penis yang kecil.
  2. 2-5 tahun
    1. Kelebihan: Anak sudah lebih besar, waktu penyembuhan masih relatif cepat.
    2. Pertimbangan: Anak belum bisa kooperatif penuh, beberapa kondisi diperlukan sedasi.
  • 6-12 tahun
    1. Kelebihan: Anak sudah bisa diajak diskusi dan lebih kooperatif. Masa penyembuhan 7-10 hari.
    2. Pertimbangan: Persiapan psikologis diperlukan agar anak tidak cemas berlebih.

 

Sebaiknya, orang tua tidak melakukan paksaan terhadap anak untuk melakukan sirkumsisi, karena jika anak belum kooperatif untuk melakukan tindakan akan menyulitkan prosedur tindakan dan dapat berpotensi untuk menimbulkan trauma. Diskusi sebelum melakukan prosedur sirkumsisi dapat dilakukan untuk persiapan anak maupun orang tua.

 

Persiapan Sebelum Prosedur Sirkumsisi

I. Persiapan medis

Sebelum tindakan, dokter akan melakukan anamnesis terlebih dahulu, termasuk menanyakan riwayat perdarahan dalam keluarga, alergi obat, obat-obatan yang rutin dikonsumsi, dan riwayat penyakit terdahulu. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk memastikan posisi meatus uretra normal, tidak ada perlekatan, dan tidak ada infeksi aktif.

Informed consent harus diperoleh dari orang tua, disertai penjelasan lengkap tentang manfaat dan risiko prosedur.

IV. Persiapan psikologis anak

Untuk anak usia sekolah, pendekatan komunikasi jauh lebih penting. Orang tua dapat menggunakan bahasa sederhana yang dapat dicerna oleh anak. Sebaiknya tidak memberikan cerita yang menakutkan, walaupun dengan maksud bercanda. Persiapan psikologis anak dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan rasa takut anak.

V. Persiapan logistik

Keluarga dapat menyiapkan pakaian dalam yang longgar dan sarung untuk dipakai anak setelah prosedur. Anak sebaiknya tidak berpuasa kecuali prosedur memerlukan bius umum dan dokter memberikan instruksi khusus. Rencanakan agar anak bisa beristirahat di rumah setidaknya 2–3 hari setelah prosedur.

Perawatan Setelah Prosedur Sirkumsisi

Waktu penyembuhan pada anak usia sekolah (6-12 tahun) berlangsung sekitar 7 hingga 10 hari. Beberapa hari awal setelah tindakan, wajar jika penis terlihat kemerahan, sedikit bengkak, atau mengeluarkan cairan kekuningan yang tidak berbau. Kondisi ini wajar dalam proses penyembuhan luka.

Luka harus dibiarkan tetap kering, jika memungkinkan jangan terkena air. Anak dapat mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter untuk mengurangi nyeri atau mengoleskan salep yang diresepkan untuk luka operasi.

Balutan luka dapat diganti apabila basah tau kotor. Sebelum menyentuh area luka, cuci tangan terlebih dahulu. Bersihkan luka dengan air hangat bersih atau cairan antiseptik sesuai anjuran dokter. Jangan gunakan alkohol atau povidone-iodine tanpa petunjuk dokter karena dapat memperlambat penyembuhan jaringan.

Luka akan mengering pada hari ke-8 hingga hari ke-10. Anak dapat kontrol kembali ke dokter untuk memastikan bahwa proses penyembuhan luka sudah berjalan dengan baik.

Warning Sign

Segera bawa ke dokter atau IGD terdekat, bila:

  • Terdapat perdarahan aktifyang tidak berhenti dengan penekanan.
  • Penis sangat membengkak atau berubah warna kebiruan hingga
  • Demamtinggi yang muncul lebih dari 24 jam setelah tindakan.
  • Adanya nanahatau bau yang tidak normal dari luka.
  • Anak tidak bisa atau tidak mau berkemih lebih dari 8-12 jam setelah tindakan.
  • Intensitas nyeri yang meningkatsetelah hari ke-2.
  • Terdapatsisa kulit yang terasa menjepit atau mencekik kepala penis.

 

Setiap anak punya kondisi yang berbeda. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter Spesialis Bedah kami di RSIA Tambak. Dokter kami siap membantu Anda menilai kesiapan dan menentukan waktu yang paling tepat untuk si kecil. Informasi kesehatan lebih lanjut dapat diakses di https://rsiatambak.com/artikel.

ARTIKEL TERKAIT

What Our Patiens’s Say About Us

Uroginekologi

Tes Genetika itu Apa Sih ?

PAKET DAN PROMOSI TERKAIT